Tampilkan postingan dengan label puisi berbalas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi berbalas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2013

Aku dan rindu yang kian raksasa.

ini adalah puisi berbalas antara saya dengan luna. semampu kami untuk terus berkirim kabar. sederhana, hanya karena kami senang menulis dan membaca, dan berada pada langit yang sama. selamat menyelam, pembaca :)


Selamat siang, selasa.

Matahari sedang bersinar terik-teriknya. Seperti rutinitas yang mulai dibiasakan. Selayaknya merindui tarian jemari milikmu, ah seyogyanya kau tahu.

Mungkin, tak ada yang lebih kau ketahui dariku selain hujan, petrichor, dan rindu. Terlalu lekat, sudah seperti identitasku. Atau jangan-jangan memang terpampang jelas di dahi berukuran lebih dari 4 centimeter ini?

Bagaimana dengan kerinduanmu? Masihkah ia menggebu? Ceritakan, ya ceritakan padaku tentang semua gulana yang menghadangmu. Kisahkan larik demi larik. Alunkan semua buncahan yang menggumpal dalam ruang bawah sadarmu. 

Sabtu, 08 Juni 2013

aku belum sempat memberi judul



Hmpft. Beberapa hari terakhir, yang jika diterjemahkan dalam skala waktu berarti dua sampai dengan tiga minggu yang lalu hingga saat ini, aku mengalami kegelisahan yang mendalam nona. Dua tiga minggu terakhir banyak hal berkelebat, melesat cepat mempecundangi waktu.

Jadi begini nona, sebelum pilpres terlaksana, sebelum presiden kita dianugerahi penghargaan yang lebih aneh lagi, aku ingin meminta maafmu. Ya, bukan satu maaf, tapi empat, lima, atau berapapun yang aku butuhkan, tergantung aku merunut kesalahan. Kau mungkin saja berpikir, “ah, apa-apaan ini si wildan. Datang tiba-tiba, minta maaf suka-suka. Situ kira maaf saya tidak ada harga?! Cih!”. Jika kau benar mengatakan itu, kuharap bibirmu tidak cukup maju hingga sanggup aku berjalan diatasnya untuk kemudian mendarat di pelukanmu

Kesalahan pertama: Aku tidak menepati janji.

Ini adalah kesalahan fatal. Sefatal PKS yang masih saja mengaku partai bersih. Sefatal SBY yang memilih merilis akun facebook, dan sefatal…..ah, yang jelas bagiku ini kesalahan yang anfal. Pada gerbang internet kita sudah berjanji mengikat diri, akan membuat tradisi yang kelak kita isi dengan tulisan-tulisan penuh imaji. Tapi lihat, baru satu dua surat saja aku sudah tidak kuat. Seharusnya aku belajar push up jari pada roy suryo. (jangan tanya kenapa harus roy suryo, pokoknya jangan). Untuk salahku yang pertama, maafmu kuminta satu.

 Kesalahan kedua: aku menuduh si “sibuk”

Entah berapa kali aku mengkambinghitamkan pak sibuk dan keluarganya atas ketidaktepatanku memenuhi janji padamu. Dan, entah berapa kambing yang aku hitamkan demi mendapat pengecualian atas keterlambatanku menulis. Seharusnya aku sepertimu, tetap menulis meski kegiatan perlahan membunuh kreatifitas. Atas kesibukanku menuduh sibuk, kali kedua aku meminta maafmu.
Kesalahan ketiga: aku membeli playstation.

Harusnya aku menempatkan ini pada posisi kesalahan pertama dan yang utama. Kau tahu, semenjak aku membeli console game sialan ini, jariku bukannya semakin lincah menari, malah mereka kini sibuk menekan tombol bersimbol bangun segi empat, tiga, lingkaran, serta sederet penunjuk arah itu. Seakan tidak mau lepas, seharian mataku sanggup terjaga menyaksikan permainan bola apik khas PS3. Dengan ini, resmi sudah kuminta maafmu yang ketiga.

Waktuku 24 jam sehari. Tapi entah kenapa aku menyelesaikan tulisan ini seperti pecundang. Sebab itu, ajari aku untuk sepertimu.

Jangan lelah mengingatkanku. Jangan letih memburuku dalam tenggat waktu. Aku perlu itu, agar aku tetap sadar, bahwa ada yang menunggu tulisanku.
P.S: aku menulis ini dalam perasaan yang tidak keruan. Di masa berikutnya akan aku ceritakan ;)

balerina dan pria yang sulit menulis

Image
 
Baiklah, harus kita mulai dari mana tulisan ini. Layaknya tulisan yang lahir dari jemari pemula lainnya, aku ingin tarian kata-kataku dapat terus menyekap matamu, hingga kemudian kau tidak punya waktu untuk mengalihkan pandangan, sebab kau tidak ingin melewatkan satu tarianpun dari ritme hentakan kata-kataku
 
Kerap aku membayangkan kata-kata adalah penari balet. Dan buku, yang dapat diterjemahkan dalam bentuk apapun itu, adalah panggung tempat mereka menarikan kaki-kaki mungilnya. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi tidak jika pementasan yang kami, aku dan penariku yang lincah, digelar dan mendapat sorotan banyak kamera. Ini semacam perasaan buku yang terpajang pada leret terlaris di toko buku besar; mencengangkan.

Kata-kataku adalah balerina, dua puluh enam jumlahnya. Amat banyak, tak heran mereka mampu menyusun ratusan formasi, bahkan ribuan. Ah, aku bahkan tak hafal dan kenal tiap formasi yang mereka bentuk. Pernah satu waktu mereka menari tanpa henti selama dua jam. Kala itu kunamai formasinya sebagai “tarian ujian semester”. Ritmenya amat sulit, berkali-kali aku melihat mereka berhenti. Entah itu hanya untuk sekedar beristirahat, atau jangan-jangan balerinaku malah tidak hafal dengan tariannya sendiri. Benar-benar dua jam yang menguras tenaga kala itu.
 
Ada pula suatu ketika mereka berdansa dengan berjinjit. Berlari-lari kecil, seakan badannya ringan, seringan daun jatuh yang tidak pernah membenci angin kata tere liye. Sebahagia dahan yang menyambut mentari pagi, dan selega hati yang rindunya terlunaskan. (untuk kalimat yang terakhir, anggap saja kau tidak membacanya)
 
Jinjit kecil mereka sering kupentaskan. Kami paling sering mementaskan “formasi jinjit kecil” ini (begitu aku menyebutnya) di panggung bernama twitter, alamatnya tidak jauh dari gerbang internet. Di twitter, mereka menari sesukanya. Tentu saja aku sudah melatih mereka sedemikian rupa agar penampilan kami dapat mengesankan yang menjadi saksi mata.
 
Luna, lain masa aku akan mengajakmu mengenal mereka satu persatu. Lain masa pula, akan kuceritakan banyak tentang mereka. Ini semacam perasa awal, agar kau mau sesekali mengingatkanku, bahwa ada kamu yang setia menyaksikan tarianku.

Hormatku, pria yang kesulitan menulis 

kita dan percakapan yang tersimpan

Image

Ketakutan terbesarku adalah, ketika apa yang selama ini aku inginkan, yang selama ini aku gumamkan, sekonyong-konyong menjadi nyata disaat aku belum mempersiapkan apa-apa menyambutnya. Saat itu benar terjadi, runtuhlah khayalan tentang pendambaan.

Ampuni aku yang sulit menepati janji. Bukan karena aku tidak mampu, hanya saja janji yang kupatrikan kepadamu sengaja kutaruh demikian tinggi, hingga untuk menggapainya aku harus berusaha lebih dari yang diminta. Kini, demi telinga yang menempel bersisian dengan matamu, dengarkan aku menulis bait-bait ini, agar sedikit terobati kerinduan yang terlanjur menahun. Aku berada pada bait pertama, kau yang kedua. kita bergantian, menciptakan percakapan

Aku sudah meninggikanmu, jauh sebelum kau jatuh meninggalkanku.

Langit rindu kini kelam, semesta yang tak berbintang. Aku dan kenangan, dalam diam tanpa harapan; kembali untukmu.

Jika kau kembali, maukah kau untuk tidak pergi lagi? jika kau hadir lagi, berjanjilah hadir di setiap pagi.

Disetiap pagi, aku harap itu pintamu, yang jatuh tepat di pelupuk mata, berdampingan dengan butiran doa kita.

Disetiap malam, ada yang berbisik mengidamkanmu. dan itu aku, meracau demi menunggu kau dan aku kembali bertemu.

Malam tanpa kegelapan, sepi tanpa keheningan, sunyi tanpa kebisuan, disitu aku terdampar sendiri, menapaki rindu yang gelap.

Ketika terang tanpa pagi, saat hiruk-pikuk tanpa kericuhan, maka hanya bersamamu aku merasa waras. meski dunia tertawa

Tak apa aku mengeja cintamu dalam gelap. sebab terang terlalu gemerlap. telah cukup buta aku, kau tak perlu tahu.

Ketidaktahuanku semoga menyelamatkan kita. ketahuilah, ada aku yang meski tidak tahu segala tentangmu, setia untukmu

Malam diselimuti kenangan. Aku terpojok di sudut kerinduan; kuhanya bisa berharap pada Janji Tuhan, pada janjimu juga.

Perihal rindu, cinta, dan sayap-sayap doa yang mengangkasa kala sujud menghunus bumi, izinkan mereka tetap ada diantara kita.

Ya Tuhan, maafkan aku yg masih saja menyebut nama selainmu dalam doaku. Karena mencintainya adalah wujud kesombonganku yg baru.

Boleh saja kau sombong atas ia yang kau miliki. tetapi ingat, aku bersekutu dengan tuhan demi merebutmu dari tangannya.

Jika aku berhasil direbut, itulah pengorbanan paling suci diantara samudera luka, seperti kisah penyaliban Tuhan dibukit Golgota

Aku tidak ingin mendiktemu Tuhan. tapi kali ini, aku memaksamu untuk mengaminkan pinta, tentang aku dan wanita yang aku cinta.

Pertemuanmu denganku adalah skenario Tuhan, kau hanya perlu berimprovisasi dengan suka dan luka.

Semoga ketika waktu yang menghalangi mata kita berbicara kau buka, ada aku sebagai satu-satunya pria di jendela hati.

Tuhan, Dua hal yg belum aku mengerti di dunia ini; Pria dan Jatuh cinta. Kenapa ia harus berada di jendela, jika pintu terbuka?

ah, andaikan saja kau disini. aku ingin melafadzkannya dekat denganmu, sehasta. agar nafasku bertukar resahmu. agar paru-paruku menghirup uap tubuhmu.

Jakarta, pada malam yang seperti biasanya.